Sunday, 21 December 2014

Komplikasi Diabetes Pada Ibu Hamil


Komplikasi diabetes pada ibu hamil. Baru-baru ini, di beberapa negara dilakukan pemeriksaan terhadap penderita diabetes yang sedang hamil. Hasil penelitian dari seluruh rumah sakit di Inggris, Wales dan Irlandia Utara ini menunjukkan bahwa meskipun kesadaran terhadap kebutuhan kontrol gula darah yang baik meningkat, terdapat beberapa kasus yang menyedihkan. Dari penelitian tersebut diperoleh data bahwa bayi dari ibu penderita diabetes mempunyai risiko sebagai berikut:
  • ·         Lima kali cenderung meninggal saat proses persalinan
  • ·         Dua kali lipat cenderung memiliki kelainan bawaan
  • ·         Dua kali cenderung memiliki berat badan lebih dari 4 kg.


                Beberapa masalah ini dapat dideteksi dengan pemeriksaan ultrasonografi (USG) pada awal kehamilan. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan hasil yang normal, kewaspadaan harus tetap dilakukan mengingat bulan-bulan kehamilan berikutnya masih akan dipengaruhi oleh kontrol gula darah ibu. Kurangnya kontrol cenderung mengakibatkan bayi berukuran besar dan dapat menjadi masalah bagi ibu serta bayi pada saat persalinan. Selain itu, ada pula risiko kematian bayi.

·         Giant baby
Jika tidak dikendalikan dengan baik, diabetes yang disertai kehamilan akan berdampak buruk terhadap bayi dan ibu. Si jabang bayi dapat tumbuh besar lebih dari besar normal (makrosomia), yaitu berat lahirnya lebih dari 4 kg (disebut bayi raksasa atau giant baby).
Mengapa hal  itu bisa terjadi? Jika selama kehamilan kadar gula darah ibu meninggi, maka glukosa akan melintasi plasenta ke dalam sirkulasi bayi dan mengakibatkan bayi menjadi gemuk. Hal ini terjadi karena pankreas bayi memproduksi insulin, meskipun pankreas ibu tidak memproduksinya. Insulin tersebut nantinya akan mengubah glukosa menjadi lemak. Akibatnya, bayi tumbuh lebih besar selama kehamilan dan persalinan harus dilakukan lebih awal untuk menghindari komplikasi.

·         Cacat lahir
Kurangnya kontrol diabetes pada saat pembuahan dapat mempengaruhi proses pembelahan dan perkembangan telur menjadi janin. Pada tahap ini, semua organ dan anggota badan janin terbentuk dalam hitungan menit. Keadaan ini terkadang mengakibatkan kelainan bawaan seperti spina bifida (cacat pada tulang belakang), timbulnya lubang abnormal di jantung, dan bibir sumbing. Risiko ini dapat dikurangi seminimal mungkin dan bahkan dihilangkan dengan memastikan HbA1c
normal sebelum kehamilan. Penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi HbA1c pada saat pembuahan, semakin tinggi pula risiko bayi memiliki abnormalitas.
Kehilangan bayi akibat cacat lahir merupakan hal yang menyedihkan. Sebuah bukti ilmiah menunjukkan bahwa perkembangan cacat pada bayi disebabkan oleh kontrol gula darah yang rendah pada beberapa minggu pertama kehamilan.  Risiko ini dapat dikurangi dengan memastikan kontrol yang sempurna saat kehamilan, yakni dengan menargetkan HbAlc kurang dari 7,5%. Risiko cacat bawaan hanya terbatas pada tahap awal kehamilan. Awal kehamilan merupakan tahap ketika berbagai komponen tubuh bayi mulai berkembang. Penting untuk dipahami bahwa risiko untuk bayi meningkat sejalan dengan peningkatan HbA1c. Semakin rendah HbAlc hingga di bawah 7,5%, semakin rendah pula resikonya.

·         lahir prematur
Seperti halnya penderita diabetes lainnya, serangan hipoglikemik yang mungkin terjadi selama kehamilan dapat membahayakan jiwa penderita termasuk  juga janin yang dikandungnya. Perkembangan dan pertumbuhan bayi dapat terganggu oleh kontrol gula darah yang rendah. Jika bayi harus dilahirkan lebih awal karena ukurannya yang besar, ia akan lahir prematur dan berisiko  mengalami banyak masalah yang biasa dimiliki bayi prematur.
Jika selama kehamilan kadar gula darah ibu tinggi, glukosa akan melintasi plasenta ke dalam sirkulasi bayi dan mengakibatkan bayi menjadi gemuk. Hal ini  terjadi karena pankreas bayi memproduksi insulin meskipun pankreas ibu tidak ikut memproduksinya. Insulin tersebut nantinya akan mengubah glukosa menjadi lemak sehingga bayi akan tumbuh lebih besar selama kehamilan dan persalinan  harus dilakukan lebih awal untuk menghindari komplikasi. Jika ibu diinduksi terlalu dini, ibu berisiko tidak siap melahirkan dan proses induksi akan gagal sehingga operasi Cesar harus dilakukan. Salah satu komplikasi dari persalinan dini adalah paru-paru bayi tidak dapat "matang" seluruhnya yang mengakibatkan sindrom  gangguan pernapasan. Bayi dengan kondisi ini perlu dirawat menggunakan ventilator di Unit Khusus Perawatan Bayi sampai paru-paru mereka cukup baik untuk mengatasinya.
Jika persalinan dini direncanakan, ibu akan diberi suntikan steroid sebelum melahirkan untuk membantu "mematangkan" paru-paru bayi dan mengurangi risiko sindrom gangguan pernapasan. Kekurangannya adalah steroid meningkatkan kadar gula darah sehingga diperlukan insulin selama beberapa hari sampai efek steroid habis.
Jika kadar gula darah ibu dijaga ketat dalam batas normal selama kehamilan, bayi cenderung tumbuh lebih cepat dari rata-rata dan kehamilan dapat berlanjut selama 40 minggu. Ini dapat menghindari risiko operasi Cesar dan juga dapat mengurangi kemungkinan sindrom gangguan pernapasan pada bayi.
Gula darah yang rendah (hipoglikemia) selama beberapa jam pertama setelah kelahiran terjadi karena pankreas bayi memproduksi insulin berlebih selama dalam kandungan agar terlindung dari kadar gula darah ibu yang tinggi. Jika gula darah ibu dikontrol secara ketat selama kehamilan dan persalinan, risiko hipoglikemia pada bayi akan berkurang. Periksakan kadar gula darah bayi pada saat lahir dan selama 24 jam selanjutnya sehingga perawatan dapat segera diberikan jika gula darah bayi rendah.

·         Bayi lahir kuning.
Bayi yang lahir dari ibu penderita diabetes lebih berisiko menjadi kuning. Hal ini bisa disebabkan oleh kelahiran dini, meskipun terkadang bayi yang lahir cukup bulan juga bisa menjadi kuning. Alasan untuk hal ini masih belum jelas, tetapi biasanya masalahnya ringan dan penyakit kuning dapat diatasi dengan pengobatan.

·         Hidramnion

Hidramnion adalah jumlah cairan yang berlebihan di sekitar janin dan lebih sering terjadi pada ibu penderita diabetes. Keadaan ini berkaitan dengan cara si ibu mengontrol diabetes selama kehamilan. Untuk mengurangi risiko terjadi lagi pada kehamilan berikutnya, jagalah HbAlc dan kadar gula darah sedekat mungkin dengan nilai normal sejak awal kehamilan.

No comments:

Post a Comment